Corona Badai Virus Dunia

32
MB86, Jakarta
Oleh: Saiful Huda Ems
Advokat, Penulis dan Ketum Ormas Harimau Jokowi, 29 Februari 2020
Sudah lama Penulis menahan diri untuk tidak menulis soal penyebaran virus spectakuler Corona ini, selain saat itu karena masih minimnya data yang dimiliki oleh Penulis, juga awalnya Penulis tidak terlalu menganggap berbahaya adanya virus ini. Namun setelah Penulis ikuti hari demi hari, reaksi Negara-negara di dunia dan adanya korban yang terus berjatuhan hari demi hari (di China sudah lebih dari 2.850 orang meninggal dunia akibat virus Corona atau Covid-19 ini) dan ratusan korban di Negara-negara lainnya, maka Penulis mulai semakin mengintensifkan perburuan data penyebaran virus Corona.
Beberapa hari lalu, keponakan Penulis hendak berangkat Umroh ke tanah suci, namun tiba-tiba setelah ia sampai di Bandar Udara Soekarno Hatta (Bandara Soatta) Jakarta, dibatalkan atau setidaknya ditunda, karena Pemerintah Kerajaan Arab Saudi untuk sementara, melarang adanya warga asing masuk ke Arab Saudi, sebagai langkah antisipasi masuknya virus Corona khususnya dari Negara-negara yang menjadi titik penyebaran virus. Dan kita juga bisa saksikan pula, banyak video yang beredar, ribuan bus jama’ah Umroh dari beberapa Negara yang tertahan, sebelum memasuki tanah suci.
Virus Corona telah menyebar ke sedikitnya 54 Negara dan menginfeksi lebih dari 83 ribu orang, hingga wabah Corona ini telah menjadi pembicaraan serius oleh Kepala-kepala Negara di dunia, juga menjadi pembicaraan di kalangan Diplomatik di Jakarta. Mereka berusaha untuk terus menerus mengingatkan Pemerintah Indonesia, untuk tidak meremehkan bahayanya penyebaran virus ini. Meski demikian, Penulis perhatikan sepertinya Pemerintah, juga tidak terlalu transparan soal berapa jumlah pasti dari Warga Negara Indonesia (WNI) yang terpapar virus Corona ini. Padahal setidaknya sudah terdapat minimal 136 orang di Indonesia yang positif terpapar virus ini. Di Jakarta 35 orang, di Banten 5 orang, di Jawa Barat (Jabar) 9 orang, di Jawa Tengah (Jateng) 13 orang, di Jawa Timur (Jatim) 10 orang, di Bali 21 orang, di Kepulauan Riau 11 orang, dan di beberapa Provinsi-provinsi lainnya. Mereka tersebar di 44 Rumah Sakit (RS) yang ada di 22 Provinsi di Indonesia.
Pertanyaannya, mengapa Pemerintah Indonesia sepertinya tidak cukup terbuka untuk soal penyebaran virus ini di Indonesia, bahkan beberapa Pejabatnya juga sempat seolah meremehkan adanya virus ini, hingga beberapa diantaranya seperti Prabowo sebagai Menteri Pertahanan (Menhan) terkesan secara demonstratif tidak menggunakan masker saat ia tiba di wilayah yang terdampak virus Corona? Begini penjelasan penulis:
Konon virus ini menyebar karena adanya puncak perang pengaruh Amerika vs China. Amerika yang belakangan kedodoran menghadapi gencarnya pertumbuhan dan pengaruh ekonomi China di dunia, hingga menempatkan China sebagai Negara Adidaya baru, telah membuat Amerika “main kayu”, sikat habis China dengan melakukan sabotase membocorkan limbah kimia di salah satu Laboratorium (Lab) kimia terbesar di dunia yang terletak di Wuhan China. Selain itu, konon Wuhan juga merupakan salah satu pusat teknologi IT China dan menjadi pusat pengembangan teknologi internet 6 G. Menghancurkan Wuhan berarti menghancurkan jantung kekuatan Adidaya Negara China, sekaligus menghancurkan hubungan ekonomi China dengan Negara-negara lainnya yang selama ini berkiblat pada China.
Kita semua telah tahu, semenjak wabah virus Corona ini menyebar hebat dan meluluh lantakkan kedamaian dan keharmonisan warga China, konsentrasi China untuk merajai ekonomi dan teknologi dunia mulai terhenti. Banyak Negara-negara yang memblok penerbangan dari Negaranya ke China atau dari China ke Negaranya. Belum lagi aktivitas kerjasama ekonomi lainnya. Maka jika Pemerintah Indonesia ikut-ikutan panik dalam menyikapi mewabahnya virus Corona ini, maka Indonesia secara tidak langsung seperti telah memberi poin kemenangan politik tersendiri bagi musuh bebuyutan China, yakni Amerika dan Eropa Barat, sedangkan sudah menjadi rahasia umum, semenjak Joko Widodo (Jokowi) berkuasa, kiblat ekonomi dan politik Indonesia bukan lagi ke Amerika, melainkan ke China.
Di sisi lainnya, jika Pemerintah Indonesia ikut-ikutan panik menghadapi penyebaran virus Corona yang sudah nampak seperti badai yang menerjang Negara-negara di dunia ini, maka perekonomian Indonesia yang belum sepenuhnya kokoh, akan terjadi kehancuran yang hebat. Bayangkan saja, jika Pemerintah menghadapi gelombang protes dari warganya yang sedang panik karena banyaknya orang yang terinfeksi virus Corona, maka Pemerintah harus secapatnya dan dalam waktu sesingkat-singkatnya mendirikan banyak RS khusus, untuk mengantisipasi dan menangani merebaknya orang yang terinfeksi virus ini. Darimana Pemerintah akan mempunyai dana?
Hanya karena Pemerintah Arab Saudi menahan ribuan jama’ah Umroh yang hendak memasuki tanah suci, beberapa Perusahaan Travel Umroh sempoyongan, karena harus memberi kompensasi bagi jama’ah Umroh, dengan mengalihkannya melakukan wisata lokal, sampai mereka benar-benar bisa diberangkatkan ke tanah suci. Hanya karena virus Corona, Perusahaan-perusahaan penerbangan mulai sepi, karena banyak orang menahan diri atau dilarang bepergian memasuki Negara-negara yang menjadi titik penyebaran virus Corona. Jangankan bepergian ke Luar Negeri, bahkan di Iran saja, sampai melarang warganya untuk menyelenggarakan Sholat Jum’at di berbagai Provinsinya, karena Iran juga terkena dampak virus Corona. Demikian pula Bahrain, Kuwait dan lain sebagainya.
Badai virus Corona ini, memang petaka terbesar di abad ini, namun jangan sampai kita mengamini pendapat Kaum Kadal Gurun (Kadrun) yang menganggap virus Corona adalah Tentara Tuhan. Sebab jika virus Corona itu Tentara Tuhan, mengapa bukan hanya Warga Negara China (WNC), Italia, Perancis dan Negara-negara mayoritas non muslim lainnya yang terkena dampaknya, namun juga Bahrain, Kuwait, Iran, Indonesia dan lain-lainnya juga terkena dampaknya. Tetaplah menjadi manusia rasional dan rendah hati, serta mengakui bahwa kita semua sebagai manusia, haruslah saling menghormati dan menghargai, serta memiliki empati atas musibah yang terjadi pada umat manusia lainnya, apapun agama dan bangsanya. (Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here