Dollar Naik 17.000 Rupiah, Orang Indonesia Santai Aja Guys

32
MB86, Jakarta
Oleh: Syafrudin Budiman, SIP/Gus Din (Pemerhati Sosial Politik)
Indonesia lagi moneter melemah. Tapi kenapa tak ada yang panik dan ekonomi berjalan lancar. Yang panik Pengusaha kaya-raya, sahamnya anjlok, stop impor dan penyesuaian harga, tapi belum tentu. Bagi rakyat kecil kenapa tak panik, nggak ngefek guys!!! Sebab ekonomi kita berbasis rakyat dan orang tahu Indonesia sebenarnya maju, tapi agak kesendat gara-gara virus Covid-19/Corona.
Bagi rakyat kecil Indonesia, sudah biasa krisis, sudah biasa kenaikan harga. Rakyat kecil bisa survive walau hanya makan indomie, tahu petis, sayuran pepaya dan makan kerupuk.
Yang penting beras tidak mahal dan minyak goreng murah. Kalau telor mahal bisa bagi dua, tahu mahal bisa bagi empat, daging mahal bisa bikin sate lalat, ayam mahal bisa makan jeroannya aja atau ususnya. Pokoknya rakyat kecil Indonesia survive dech.
Kita lihat orang kaya di Indonesia, apa kena dampak, dia tahu krisis ini hanya krisis semua, walau barusan bos PT. Djarum kelihangan 71 T gara-gara saham korporasinya anjlok. Kenapa para Konglemerat tetap survive? Sebab mereka nggak makan saham, tetap makan nasi dan jagung, kadang-kadang indomie juga…he he he.
Para orang kaya di Indonesia biasa, juga survive dan menganggap turunnya saham dan naiknya dolar, hanyalah sementara di tengah ketidakpastian Corona yang masih diurus Pemerintah. Mereka para Konglomerat bersikap wait aja tanpa and see.
Selain itu, para pemodal yang kaya-raya di Indonesia nggak ada yang panik. Punya Mall sepi, santai aja. Punya bisnis transportasi Bis, Travel, Kapal Laut dan Pesawat lesu, santai aja. Punya Hotel-hotel dan Restoran sepi omset, santai aja guys. Sebab mereka juga udah bisa survive.
Ingat, selama 10 tahun ekonomi Indonesia meningkat walau sedikit stabil di angka 5 persen. Kenapa Indonesia bisa bertahan sebab ekonomi? Karena kita bukan berbasis utang kosumtif, tapi di tangan Jokowi, utang menjadi konsumsi produktif.
Walau 4-5 bulan ke depan ekonomi menjadi agak lesu dan dollar 20.000 sekalipun, Indonesia tetap tumbuh dalam kolektifisme, solidaritas, gotong-royong dan persatuan. Sebab, dengan cobaan kasus virus Covid-19, orang kaya dan miskin tak ada artinya.
Sesuai syair lagu populer, “orang kaya mati, orang miskin mati, Raja-raja mati”. Itulah sepenggal syair yang populer di rakyat Indonesia. Buat apa kaya tapi sakit, buat apa sakit walau harta berlimpah. Tetap yang mahal adalah sehat wal ‘afiat.
Jokowi dan Menteri-menterinya sudah bergerak menangani Virus Corona Covid-19. Tiap hari Jokowi siang malang bekerja untuk membasmi Corona dan menyadarkan masyarakat berperilaku sehat.
Kenapa Jokowi tak panik walau dolar sudah mau masuk 17.000 Rupiah? Kenapa tak menyuruh Gubernur Bank Indonesia (BI) tak melakukan intervensi? Pemerintah sadar, kenaikan dollar adalah kenaikan semu dan hari ini kita tak bergantung dollar, sebab naik nggak masalah, wong memang kondisinya force mayor dan darurat.
Darurat artinya genting, namanya genting artinya situasi tak menentu dan Pemerintah lagi fokus selesaikan masalah Corona. Prioritas utama adalah menjaga dan melindungi nyawa rakyat Indonesia, tak peduli orang kecil atau orang kaya.
Nah guys, rakyat kecil nggak panik karena biasa survive dan bertahan. Orang kaya terutama Pemodal, juga nggak panik karena memahami keadaan. Presiden dan Menterinya juga nggak panik, karena mereka tahu apa yang harus diselesaikan.
Terus yang panik siapa guys…yang panik adalah orang-orang yang tak punya kemampuan bertahan dan manja. Bisa tergantung pada keadaan dan tidak terbiasa merubah keadaan. (Red)
Salam santai

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here