Dunia Boleh Heran (Tetapi Jangan Menuduh Indonesia Bohong)

27
MB86, Surabaya
Hasil Pemeriksaan Covid-19 di Laboratorium Universitas Airlangga  Semua Negatif
Selasa, 18 February 2020
Oleh: Dahlan Iskan
Sebenarnya sudah banyak juga yang menjalani tes virus Corona di Indonesia. Yang di Surabaya saja sudah 10 orang.
“Semuanya negatif,” jelas Prof. Dr. Inge Lucida, Direktur International Institute of Tropical Disease Universitas Airlangga (ITD Unair) Surabaya.
Saya pun benar-benar ikut penasaran. Mengapa tidak ada virus Corona di Indonesia. Padahal, semua Negara Asia sudah terkena. Sampai orang di Luar Negeri mengejek kita sebagai Negara yang tidak mampu mendeteksinya.
Kemarin pagi, saya ke ITD Unair itu. Saya tahu Unair memiliki Laboratorium (Lab) penyakit tropis terbaik. Saya ditemui 2 Profesor yang ahli virus. Yakni Prof. Dr. Ni Nyoman Tri Puspaningsih dan Prof. Dr. Inge Lucida.
Prof. Nyoman adalah Wakil Rektor I Unair. Sedang Prof. Inge adalah Direktur Lab penyakit tropis tersebut.
Begitu virus Corona mewabah, Unair mengadakan kontak intensif dengan Jepang. ITD memang didirikan bersama dengan Jepang.
Setelah serangkaian pembicaraan Unair, lantas berinisiatif membeli 3 set Primer yang bisa dipakai memeriksa virus Corona. Belinya ya di Jepang.
“Jadi, teknik dan sarana pemeriksaan Corona di Unair, sama dengan di Jepang,” ujar Prof. Inge.
Hasil pengetesan itu, juga di tes ulang di peralatan milik Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Hasilnya sama…, negatif.
Yang dibeli itu bukan mesin, tapi Primer. Sejenis cairan, tapi sudah dalam keadaan kering, agar bisa dibawa ke Negara lain. Mesin pemeriksanya sendiri, Unair sudah lebih dulu memilikinya. Juga bantuan dari Jepang. Primer itulah yang dimasukkan ke mesin itu. Lantas materi yang akan diperiksa dimasukkan ke dalamnya.
Dan memang, lab Unair ini bekerjasama dengan Kobe University. Sekarang pun ada 3 ahli dari Jepang yang ada di Lab itu.
Waktu membeli senyawa itu, Unair sampai tidak sabar. Terlalu lama kalau harus dikirim lewat Federal Express (FedEx) atau Express Mail Service (EMS). Prof. Inge memutuskan untuk mengirim seorang Staf di ITD, berangkat ke Kobe. Begitu tiba di Osaka, Staf tersebut langsung ke Kobe University. Setelah mengambil senyawa tersebut, ia langsung kembali ke Surabaya.
“Nah, itu orangnya yang ke Jepang,” ujar Prof. Inge, sambil menunjuk sang utusan yang lagi bertugas di ITD.
Prof. Inge sendiri mendapat gelar Doktor di Kobe University. Dia adalah penduduk asli Unair. Ayahnya seorang Dokter terkenal lulusan Unair. Ibunya seorang Apoteker dari Kampus yang sama. 3 saudaranya juga Dokter dari Unair. Hanya 2 yang bukan Dokter, tapi juga Apoteker dan Sarjana Ekonomi (SE) Unair. Yang SE itu, kini memiliki bisnis Lab kesehatan yang juga sangat terkenal di Surabaya. Sekeluarga Unair semua.
Sedang Prof. Nyoman, juga dikenal sebagai Peneliti hebat bidang biokimia. Prof. Nyoman lah yang menemukan enzim untuk makanan ternak. Yang dulu pernah saya undang ke Kemen Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk mempresentasikannya. Gelar S2-nya dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dan S3-nya dari Institut Pertanian Bogor (IPB). Prof. Nyoman, juga pernah terpilih sebagai Dosen Teladan Nasional, selama tiga tahun.
Saat mampir ke ruang kerjanya, saya pun melihat hasil-hasil penelitian berbagai macam virus di laptopnya. Prinsipnya, virus itu punya kaki-kaki untuk memijakkan diri. Pijakannya adalah sel di alat pernafasan manusia. Setelah kaki-kaki virus memperoleh pijakan yang pas, barulah sang virus mengeluarkan penyakitnya.
Kalau saja tempat berpijak kaki-kaki itu tidak tepat, sang virus tidak bisa berproduksi. Ibarat orang mau berak. Kalau kakinya tidak tepat di pijakan, pup nya tidak bisa keluar.
Karena itu, struktur virus tersebut harus benar-benar diketahui. Kini struktur itu sudah diketahui. Tanpa pijakan yang tepat, virus tidak bisa berkembang. Maka, obat yang akan ditemukan adalah obat yang akan bisa menipu virus. Yakni obat yang bisa membuat pijakan yang persis diperlukan virus. Tapi sebenarnya, itu pijakan palsu. Dengan demikian, virus tidak bisa mengeluarkan pup nya.
Dari 10 orang yang pernah diperiksa di Lab Unair itu, sebagian adalah Pasien Rumah Sakit (RS). Sebagian lagi orang yang datang untuk memeriksakan diri. Semuanya dicurigai menderita virus Corona. Hasilnya…, bersih. Salah satu dari mereka adalah seorang Dokter. Sang Dokter seperti terkena flu. Putrinya baru pulang dari Luar Negeri. Maka, muncul kekhawatiran tertular virus Corona.
Sang Dokter pun memeriksakan diri ke Lab Unair. Ternyata negatif. Sampai sekarang pun semua yang pernah diperiksa itu baik-baik saja.
Senyawa yang dibeli dari Jepang itu sendiri, cukup untuk memeriksa 100 orang. Hasil pemeriksaannya pun bisa diketahui dengan cepat, 5 jam kemudian. Itu karena tidak perlu antre.
Siapapun bisa memeriksakan diri ke sini, ujar Prof. Inge, yang sehari-harinya di Pusat Penelitian Penyakit Tropik di Kampus C Unair itu.
“Tentu harus membayar, Rp1 juta,” terangnya.
2 guru besar ini juga ikut penasaran…, mengapa orang Indonesia tidak terkena virus Corona. Keduanya masih terus mencari jawabannya.
Tapi beliau juga tidak terlalu heran. Waktu Arab Saudi dilanda wabah virus Middle East Respirators Syndrome (MERS), Indonesia juga aman. Padahal, begitu banyak jema’ah Haji yang ke Saudi.
“Ribuan jema’ah Haji yang diperiksa saat itu. Tidak satu pun yang terkena virus MERS,” sambung Prof. Inge.
Demikian juga saat Tiongkok dilanda virus Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). Indonesia nihil.
Hanya waktu ada wabah flu burung, korbannya banyak. Saat itulah Unair berjaya menemukan obat untuk mencegah flu burung.
Sampai sekarangpun, virus flu burung itu masih ada. Kita sering melakukan pemeriksaan atas ayam di pasar-pasar. Virus flu burungnya masih ada di ayam.
“Tapi tidak ada lagi orang yang terkena flu burung,” jelas Prof. Nyoman.
“Kita sudah kebal. Kekebalan tubuh untuk flu burung sudah muncul,” imbuhnya.
Prof. Nyoman lahir di Belitung. Ayah-ibunya asli Bali. Saat itu, orang tuanya bertugas di Bank Rakyat Indonesia (BRI) Tanjungpandan. Karir sang ayah melejit di Jakarta. Semua orang BRI tahu beliau, I Wayan Patra, pencetus ide Kredit Usaha Tani (KUT) tahun 1970-an. Beliau meninggal muda, karena sakit ginjal. Setelah itu, istri dan anak-anaknya pindah ke Bali. Prof. Nyoman pun Sekolah sampai Sekolah Menengah Atas (SMA) di Denpasar dan akhirnya kuliah di Unair.
Walhasil, belum ada jawaban ilmiah soal penasarannya banyak orang itu.
Hanya humoris yang langsung bisa menjawab…, virus itu tidak bisa masuk ke Indonesia, karena perizinan di sini sulit…! (Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here