Fatwa MUI No. 28 Tahun 2020 Tentang Panduan Kaifiat Takbir dan Shalat ‘Idul Fitri Saat Pandemi Covid-19

29
MB86, Jakpus
Ketentuan dan Panduan Hukum
I. Ketentuan Hukum
Shalat ‘Idul Fitri hukumnya sunnah mu’akadah yang menjadi salah satu syi’ar keagamaan (syi’ar min sya’ar al-Islam).
Shalat ‘Idul Fitri disunnahkan bagi setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan, merdeka maupun hamba sahaya, dewasa maupun anak-anak, sedang di kediaman maupun sedang bepergian (musafir), secara berjama’ah maupun secara sendiri.
Shalat ‘Idul Fitri sangat disunnahkan untuk dilaksanakan secara berjama’ah di tanah lapang, Masjid, Mushalla dan tempat lainnya.
Shalat ‘Idul Fitri berjama’ah boleh dilaksanakan di rumah.
Pada malam ‘Idul Fitri, umat Islam disunnahkan untuk menghidupkan malam ‘Idul Fitri dengan takbir, tahmid, tasbih, serta aktifitas ibadah.
II. Ketentuan Pelaksanaan ‘Idul Fitri di kawasan Covid-19
Jika umat Islam berada di kawasan Corona Virus Desease 2019 (Covid-19) yang sudah terkendali pada saat 1 Syawal 1441 H, yang salah satunya ditandai dengan angka penularan menunjukkan kecenderungan menurun dan kebijakan pelonggaran aktifitas sosial yang memungkinkan terjadinya kerumunan berdasarkan ahli yang kredibel dan amanah, maka shalat ‘Idul Fitri dilaksanakan dengan cara berjama’ah di tanah lapang, Masjid, Mushalla, atau tempat lain.
Jika umat Islam berada di kawasan terkendali atau kawasan yang bebas Covid-19 dan diyakini tidak terdapat penularan (seperti di kawasan Pedesaan atau Perumahan terbatas yang homogen, tidak ada yang terkena Covid-19 dan tidak ada keluar masuk orang), shalat ‘Idul Fitri dapat dilaksanakan dengan cara berjama’ah di tanah lapang/Masjid/Mushalla/tempat lain.
Shalat ‘Idul Fitri boleh dilaksanakan di rumah dengan berjama’ah bersama Anggota Keluarga atau secara sendiri (munfarid), terutama jika ia berada di kawasan penyebaran Covid-19 yang belum terkendali.
Pelaksanaan shalat ‘Idul Fitri, baik di Masjid maupun di rumah, harus tetap melaksanakan protokol kesehatan dan mencegah terjadinya potensi penularan.
III. Panduan Kaifiat Shalat ‘Idul Fitri Berjama’ah
Kaifiat shalat ‘Idul Fitri secara berjama’ah adalah sebagai berikut:
Sebelum shalat, disunnahkan untuk memperbanyak bacaan takbir, tahmid dan tasbih.
Shalat dimulai dengan menyeru “ash-shalâta jâmi‘ah”, tanpa adzan dan iqamah.
Memulai dengan niat shalat ‘Idul Fitri, yang jika dilafalkan berbunyi;
أُصَلِّي سُنَّةً لعِيْدِ اْلفِطْرِ رَكْعَتَيْنِ (مَأْمُوْمًا\إِمَامًا) لله تعالى
“Aku berniat shalat sunnah ‘Idul Fitri dua raka’at (menjadi makmum/imam) karena Allah ta’ala.”
Membaca takbiratul ihram (الله أكبر) sambil mengangkat kedua tangan.
Membaca takbir sebanyak 7 (tujuh) kali (diluar takbiratul ihram) dan diantara tiap takbir itu dianjurkan membaca:
سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ
Membaca surah Al-Fatihah, diteruskan membaca surah yang pendek dari Al-Qur’an.
Ruku’, sujud, duduk diantara dua sujud dan seterusnya, hingga berdiri lagi seperti shalat biasa.
Pada raka’at kedua sebelum membaca Al-Fatihah, disunnahkan takbir sebanyak 5 (lima) kali sambil mengangkat tangan, diluar takbir saat berdiri (takbir qiyam) dan diantara tiap takbir disunnahkan membaca:
سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ
Membaca surah Al-Fatihah, diteruskan membaca surah yang pendek dari Al-Qur’an.
Ruku’, sujud dan seterusnya, hingga salam.
Setelah salam, disunnahkan mendengarkan khutbah ‘Idul Fitri.
IV. Panduan Kaifiat Khutbah ‘Idul Fitri
Khutbah ‘Id hukumnya sunnah yang merupakan kesempuranaan shalat ‘Idul Fitri.
Khutbah ‘Id dilaksanakan dengan dua khutbah, dilaksanakan dengan berdiri dan diantara keduanya dipisahkan dengan duduk sejenak.
Khutbah pertama dimulai dengan takbir sebanyak sembilan kali, sedangkan pada khutbah kedua dimulai dengan takbir tujuh kali.
Khutbah pertama dilakukan dengan cara sebagai berikut:
Membaca takbir sebanyak sembilan kali.
Memuji Allah dengan sekurang-kurangnya membaca الحمد لله.
Membaca shalawat Nabi saw, antara lain dengan membaca اللهم صل على سيدنا محمد.
Berwasiat tentang takwa.
Membaca ayat Al-Qur’an.
Khutbah kedua dilakukan dengan cara sebagai berikut:
Membaca takbir sebanyak tujuh kali.
Memuji Allah dengan sekurang-kurangnya membaca الحمد لله.
Membaca shalawat Nabi saw, antara lain dengan membaca اللهم صل على سيدنا محمد.
Berwasiat tentang takwa.
Mendo’akan kaum muslimin.
V. Ketentuan Shalat ‘Idul Fitri di Rumah
Shalat ‘Idul Fitri yang dilaksanakan di rumah dapat dilakukan secara berjama’ah dan dapat dilakukan secara sendiri.
Jika shalat ‘Idul Fitri dilaksanakan secara berjama’ah, maka ketentuannya sebagai berikut:
Jumlah jama’ah yang shalat minimal 4 orang, satu orang imam dan 3 orang makmum.
Kaifiat shalatnya mengikuti ketentuan angka III (Panduan Kaifiat Shalat ‘Idul Fitri Berjama’ah) dalam fatwa ini.
Usai shalat ‘Id, Khatib melaksanakan khutbah dengan mengikuti ketentuan angka IV dalam fatwa ini.
Jika jumlah jama’ah kurang dari empat orang atau jika dalam pelaksanaan shalat jama’ah di rumah tidak ada yang berkemampuan untuk khutbah, maka shalat ‘Idul Fitri boleh dilakukan berjama’ah tanpa khutbah.
Jika shalat ‘Idul Fitri dilaksanakan secara sendiri (munfarid), maka ketentuannya sebagai berikut:
Berniat niat shalat ‘Idul Fitri secara sendiri.
Dilaksanakan dengan bacaan pelan (sirr).
Tata cara pelaksanaannya mengacu pada angka III (Panduan Kaifiat Shalat ‘Idul Fitri Berjama’ah) dalam fatwa ini.
Tidak ada khutbah.
VI. Panduan Takbir ‘Idul Fitri
Setiap muslim dalam kondisi apapun disunnahkan untuk menghidupkan malam ‘Idul Fitri dengan takbir, tahmid, tahlil, menyeru keagungan Allah swt.
Waktu pelaksanaan takbir mulai dari tenggelamnya matahari di akhir Ramadlan hingga jelang dilaksanakannya shalat ‘Idul Fitri.
Disunnahkan membaca takbir di rumah, di Masjid, di pasar, di kendaraan, di jalan, di Rumah Sakit (RS), di Kantor dan di tempat-tempat umum, sebagai syi’ar keagamaan.
Pelaksanaan takbir bisa dilaksanakan sendiri atau bersama-sama, dengan cara jahr (suara keras) atau sirr (pelan).
Dalam situasi pandemi yang belum terkendali, takbir bisa dilaksanakan di rumah, di Masjid oleh Pengurus Takmir, di jalan oleh Petugas atau jama’ah secara terbatas dan juga melalui media televisi (tv), radio, media sosial (medsos) dan media digital lainnya.
Umat Islam, Pemerintah dan masyarakat, perlu menggemakan takbir, tahmid dan tahlil, saat malam ‘Idul Fitri sebagai tanda syukur sekaligus do’a agar wabah Covid-19 segera diangkat oleh Allah swt.
VII. Amaliah Sunnah ‘Idul Fitri
Pada hari ‘Idul Fitri disunnahkan beberapa amaliah sebagai berikut:
Mandi dan memotong kuku.
Memakai pakaian terbaik dan wangi-wangian.
Makan sebelum melaksanakan sholat ‘Idul Fitri.
Mengumandangkan takbir hingga menjelang shalat.
Melewati jalan yang berbeda antara pergi dan pulang.
Saling mengucapkan selamat (tahniah Al-‘Id) antara lain dengan mengucapkan تقبل الله منا و منكم. (Red)
Ditetapkan di: Jakarta
Pada tanggal: 20 Ramadlan 1441 H/13 Mei 2020 M
MAJELIS ULAMA INDONESIA
KOMISI FATWA
PROF. DR. H. HASANUDDIN AF
Ketua
DR. HM. ASRORUN NI’AM SHOLEH, MA
Sekretaris
Mengetahui,
DEWAN PIMPINAN
MAJELIS ULAMA INDONESIA
KH. MUHYIDDIN JUNAEDI, MA
Wakil Ketua Umum
DR. H. ANWAR ABBAS, MM, M.Ag
Sekretaris Jenderal

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here