Kemnaker Targetkan Tarik 9 Ribu Pekerja Anak Tahun 2020

24
Bidik 86, Jakarta
Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) terus berupaya menghapus pekerja anak, dengan melakukan penarikan pekerja anak dari bentuk-bentuk pekerjaan terburuk. Kemnaker menargetkan penarikan pekerja anak untuk tahun 2020 sebanyak 9 ribu pekerja anak.
Pekerja anak yang telah ditarik dari bentuk-bentuk pekerjaan terburuk anak sejak tahun 2008 sampai saat ini adalah sebanyak 134.456 orang pekerja anak dari jumlah pekerja anak yang ada sebanyak 1.709.712 anak, berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018.
“Di masa pandemi Covid-19 ini, saya ingin kembali mengajak dan memperkuat komitmen bersama, untuk membebaskan anak-anak kita dari belenggu pekerjaan yang belum menjadi tanggung jawab mereka,” kata Menaker Ida, saat membuka acara Web Seminar (Webinar) Nasional bertajuk “Pandemi Covid-19: Tantangan dan Strategi Penanggulangan Pekerja Anak Secara Kolektif dan Berkelanjutan”, Jum’at (12/06/20).
Webinar ini diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Dunia Menentang Pekerja Anak.
Menurutnya, dalam mewujudkan penghapusan pekerja anak, harus dilakukan secara bersama-sama, sehingga anak-anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal, baik fisik, mental, sosial dan intelektual.
“Ini merupakan gerakan bersama yang harus dilaksanakan secara terkoordinasi, melibatkan semua pihak, Pemerintah Pusat, Pemprov, Pemkab/Pemkot, Serikat Pekerja/Buruh, Pengusaha, untuk bersama-sama melakukan upaya penanggulangan pekerja anak,” katanya.
Menaker Ida menegaskan, bahwa Indonesia memiliki komitmen besar dalam menghapus pekerja anak. Wujud komitmen tersebut ditandai dengan meratifikasi Konvensi International Labour Organization (ILO) Nomor 138, mengenai usia minimum untuk diperbolehkan bekerja dengan Undang-Undang (UU) No. 20 tahun 1999, serta memasukkan substansi teknis yang ada dalam Konvensi ILO tersebut dalam UU No. 13 tahun 2013, tentang Ketenagakerjaan.
Menaker Ida menyatakan, bahwa pada kenyataannya tidak semua anak Indonesia mempunyai kesempatan untuk memperoleh hak-hak mereka secara penuh, serta menikmati kesempatan kebutuhan mereka khas sebagai anak, terutama anak-anak yang terlahir dari keluarga miskin atau Rumah Tangga Sangat Miskin (RTSM).
“Ketidakberdayaan ekonomi orang tua dalam memenuhi kebutuhan keluarga, mamaksa anak-anak terlibat dalam pekerjaan yang membahayakan atau bahkan terjerumus dalam bentuk-bentuk pekerjaan terburuk untuk anak yang sangat merugikan keselamatan, kesehatan dan tumbuh kembang anak,” katanya.
Lebih lanjut ia menyatakan, dalam kondisi pandemi Corona Virus Desease 2019 (Covid-19) ini, anak-anak juga merupakan kelompok yang terdampak, yang pada akhirnya memaksa anak-anak ambil bagian untuk membantu perekonomian keluarganya.
“Ini harus dihentikan. Stop pekerja anak. Biarkan anak tumbuh dan berkembang secara optimal dari segi fisik, mental, sosial dan intelektualnya, semua untuk kepentingan terbaik bagi anak,” katanya.
Direktur ILO Jakarta dan Timor Leste, Michiko Miyamoto mengatakan, pandemi Covid-19 telah mengakibatkan hilangnya pendapatan rumah tangga dan meningkatkan potensi anak-anak dalam kegiatan ekonomi. Bahkan lebih banyak anak yang terjebak dalam pekerjaan yang eksploitatif dan berbahaya.
“Mereka yang sudah bekerja mungkin akan mengalami jam kerja yang panjang dan kondisi kerja yang memburuk,” ucapnya.
Michiko menyatakan, belajar dari krisis-krisis sebelumnya, pekerja anak telah mewariskan kemiskinan antar-generasi, mengancam ekonomi Negara-negara dan mengabaikan hak-hak.
“Kemiskinan telah memaksa keluarga untuk menggunakan pekerja anak untuk tetap bisa survive,” ujarnya.
Michiko memberikan apresiasi atas kerja kolaboratif seluruh pihak, untuk memperingati Hari Dunia Menentang Pekerja Anak tahun 2020.
“Saya yakin kolaborasi berbagai pihak, tantangan pekerja anak di masa mendatang, mampu diatasi secara bersama-sama,” tuturnya. (Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here