MAKI Meminta Penertiban Baliho Karangan Bunga Dalam Persidangan Megaskandal Korupsi PT. Asuransi Jiwasraya (Persero)

25
Bidik 86, Jakpus
Pegiat Anti Korupsi, Boyamin Saiman, mensinyalir maraknya kiriman karangan bunga disekitar Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat (PN Jakpus) selama proses persidangan kasus megaskandal korupsi di PT. Asuransi Jiwasraya (Persero), adalah bentuk mobilisasi dukungan dari para Pengacara terdakwa dan Koleganya, kepada para Koruptor.
Mobilisasi dukungan kepada pelaku Tipikor berupa karangan bunga berisi seruan-seruan dan ucapan-ucapan dukungan kepada para terdakwa kasus yang terjadi di Perusahaan pelat merah itu, juga sebagai upaya merusak kinerja Penyidik Kejaksaan Agung (Kejagung) dan institusi Hakim, yang menyidangkan perkara yang ditaksir sudah merugikan keuangan Negara mencapai Rp16,8 triliun itu.
“Baliho karangan bunga tersebut kami fahami sebagai bentuk dukungan kepada terdakwa. Dan berpotensi mempengaruhi Hakim dalam persidangan. Kami yakin, pembuat baliho karangan bunga itu dimaksudkan untuk upaya membebaskan para terdakwa dugaan korupsi Jiwasraya, dengan cara-cara di luar persidangan,” tutur Boyamin Saiman, Sabtu (13/06/20).
Boyamin Saiman, yang adalah Koordinator Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) menyatakan, dalam dua kali persidangan megaskandal korupsi PT. Asuransi Jiwasraya (Persero) yang sudah digelar di Pengadilan Tipikor pada PN Jakpus, terdapat penempatan baliho karangan bunga yang berisi dukungan terhadap terdakwa Benny Tjokrosaputro alias Bentjok.
“Penempatan baliho karangan bunga tersebut tidak etis dan tidak pada tempatnya,” tandas Boyamin.
Boyamin pun meminta kepada Ketua PN Jakpus, untuk menertibkan dan melarang penempatan baliho karangan bunga tersebut di semua area. Termasuk di trotoar yang ada di depan Gedung PN Jakpus tersebut.
Alasan Boyamin meminta penertiban karangan-karangan bunga yang diduga dibiayai oleh para terdakwa lewat para Pengacaranya itu, dikarenakan membuat wajah Pengadilan menjadi sarat dengan aroma keberpihakan kepada para Koruptor.
“Pengadilan adalah lembaga netral yang tidak berpihak kepada siapapun. Pengadilan hanya berpihak kepada kebenaran dan keadilan,” tegas Boyamin Saiman.
Karena itu, Boyamin mengingatkan, Hakim harus bersikap adil dan tidak berpihak kepada para Koruptor dan para Pengacaranya.
Hal itu sudah menjadi Kode Etik bagi Hakim, sebagaimana tertuang pada Keputusan Bersama Ketua Mahkamah Agung (MA) dan Ketua Komisi Yudisial Nomor 047/KMA/SKB/IV/2009 dan No. 02/SKB/P.KY/IV/2009, tentang Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim.
Dan juga pada Peraturan Bersama Ketua MA dan Ketua Komisi Yudisial No. 02/PB/MA/IX/2012 dan 02/PB/P.KY/09/2012, tentang Panduan Penegakan Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim.
“Jika hendak membela terdakwa, sudah terdapat saluran melalui Penasehat Hukum masing-masing dari terdakwa. Dan pembelaan tersebut telah diberi ruang dalam bentuk pembacaan eksepsi, pada hari Rabu tanggal 10 Juni 2020 kemarin itu,” tutur Boyamin.
Boyamin Saiman juga menduga, pemasangan baliho karangan bunga itu tidak mendapat ijin dari Kepolisian. Sehingga harus ditertibkan dan atau dilarang.
Menurut Boyamin, pemasangan baliho karangan bunga seperti itu adalah bentuk penyaluran aspirasi sebagaimana ketentuan Undang-Undang (UU) No. 9 tahun 1998, tentang Penyampaian Pendapat Di Muka Umum.
“Sehingga harus terdapat ijin dari Kepolisian setempat. Dan jika tidak ada ijin, ya harus dilarang,” ujarnya.
Boyamin menyampaikan, dirinya melihat ada berbagai cara yang dilakukan para Pengacara terdakwa itu, untuk mempengaruhi proses penegakan keadilan. Bahkan tanpa rasa malu, sudah menyerang Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejagung.
Yang mana, katanya, hal itu juga sama dengan sedang menyerang Jaksa Agung Republik Indonesia (RI) sebagai sebuah Kesatuan Adhyaksa. Demikian pula dengan penyerangan terhadap institusi Peradilan dan Hakim.
“Atas hal-hal tersebut, MAKI akan melayangkan surat berisi permintaan penertiban baliho karangan bunga kepada Ketua PN Jakpus. Dengan tembusan kepada Ketua MA dan Ketua Badan Pengawasan MA,” tandas Boyamin Saiman. (Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here