Megawati Ancam Pecat Kadernya yang Tak Bela dan Lakukan Kekerasan pada Perempuan

18
Bidik 86, Jakarta
Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (Ketum DPP PDIP), Megawati Soekarnoputri, meminta agar seluruh Kadernya benar-benar berpihak kepada kebijakan perlindungan terhadap perempuan dan anak.
Megawati menyatakan, dirinya siap memecat Kader yang melakukan kekerasan terhadap perempuan, ataupun tak berkebijakan membela perempuan.
Berbicara dalam pidatonya di pembukaan Sekolah Calon Kepala Daerah (Cakada) PDIP Gelombang II menuju Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak 2020 secara Dalam Jaringan (Daring), Rabu (26/08/20). Megawati mengungkap data peningkatan kasus kekerasan terhadap perempuan. Khususnya selama pandemi Corona Virus Desease 2019 (Covid-19). Dan sebagian besar kekerasan itu dilakukan oleh laki-laki.
“Kekerasan perempuan terhadap perempuan dengan anak, itu semakin besar. Lah kalau saya dengar begitu, terus siapa yang buat kekerasan? Dengan segala hormat saya kepada para kaum laki, ternyata yang melakukan kekerasan itu kaum laki,” tutur Megawati.
“Lalu bagaimana dong, Indonesia mau jadi apa kalau begini?” sambungnya.
Menurut Megawati, ini sebuah ironi. Pasalnya, tak akan maju sebuah Negara jika perempuan dan laki-laki tak saling bersinergi layaknya kedua sayap seekor burung.
“Coba apa artinya? Ya memang mesti sama-sama, laki sama perempuan,” tegasnya.
“Saya harus ngomong nih urusan perempuan. Kenapa? Sakit hati saya mendapatkan laporan seperti itu. Saya seorang Ibu loh, seorang Nenek loh. Perempuan-perempuan (Kader PDIP) yang tidak membela kaumnya, saya pecat,” tegas Megawati.
“Kalau saya dengar dari kalian ada yang melakukan tindak kekerasan, saya pecat. Gitu saja. Meskipun tadi saya sudah bilang kalau eksekutif susah banget, tapi kenapa tidak diperjuangkan? Kalau sampai keluarga sendiri itu dibegitukan, apalagi sama rakyat yang seharusnya di tolong, betul apa tidak? Coba jawab,” tambah Megawati, dihadapan peserta sekolah Cakada.
Megawati juga menceritakan betapa dirinya bangga atas didikan orang tuanya yang tak membeda-bedakan perempuan dan laki-laki.
“Saya bangga pada orang tua saya, karena memberikan kami yang perempuan tidak ada perbedaan dengan laki. Masing-masing disuruh ambil yang kamu ambil. Tidak ada perbedaan dengan saudara lakinya,” katanya.
Berdasarkan data dari Kompas Perempuan, ada 1.299 kasus kekerasan terhadap perempuan, termasuk anak perempuan, sepanjang Maret hingga Mei 2020. Data ini ditemukan dalam kajian kualitatif Komisi Nasional (Komnas) Perempuan, tentang situasi layanan bagi perempuan korban kekerasan maupun pendamping korban di masa pandemi Covid-19.
Menurut Komnas Perempuan, kekerasan psikis dan fisik masih mendominasi di ranah privat, sedangkan kekerasan seksual masih tinggi di ranah publik dan Negara.
Kajian ini menemukan kekerasan terhadap perempuan berbasis online, yaitu sebanyak 129 kasus atau sebanyak 11 persen yang didominasi pengancaman bernuansa kekerasan seksual. (Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here