Mewaspadai Perampasan HAM di Tengah Pandemi Covid-19

18
Oleh: Dolfie Rompas, SH
Bidik 86, Jakarta
Di tengah upaya Pemerintah menangani pandemi Corona Virus Desease 2019 (Covid-19), beredar juga isu tentang ketidakpuasan masyarakat terhadap penanganan yang dilakukan oleh beberapa Oknum tim medis dalam menangani pandemi ini di berbagai Rumah Sakit (RS) yang ada.
Banyak warga masyarakat yang merasa tidak puas dan keberatan karena mengalami semacam tindakan pemaksaan, antara lain saat akan diisolasi di RS hanya berdasarkan hasil dugaan atau kekuatiran kemungkinan akan terpapar virus Covid-19. Pada kasus lain, juga terjadi pemaksaan oleh pihak Oknum tim medis terhadap jenazah orang yang wafat karena penyakit non Covid-19 untuk dikuburkan mengikuti protokol pemakaman jenazah Covid-19. Masyarakat tidak bisa menguburkan keluarganya yang meninggal, hanya karena dugaan-dugaan si mayat terinfeksi virus Covid-19.
Padahal, mereka (pasien dan jenazah–red) belum memiliki rekam medis yang secara pasti menyatakan bahwa mereka telah terinfeksi Covid-19.
Ada juga warga yang ingin melakukan isolasi mandiri di rumah sendiri, namun mengalami kesulitan. Pihak Oknum RS tetap memaksakan yang bersangkutan untuk diisolasi di RS tersebut.
Sangat jelas diatur di dalam UU Republik Indonesia (RI) Nomor 6 tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan, khususnya Bab 1 pasal 1 ayat (7) mengatakan, bahwa yang dimaksud isolasi adalah pemisahan orang sakit dari orang sehat. Jadi, seseorang yang diisolasi harus benar-benar sakit, bukan baru diduga akan sakit, atau yang sudah memiliki rekam medis bahwa orang tersebut benar-benar telah terinfeksi penyakit virus Covid-19.
Masyarakat juga bisa melakukan karantina di rumah sendiri jika diduga terinfeksi suatu penyakit sebagaimana yang diatur pada pasal 1 ayat (8). Jadi, tidak harus di RS untuk melakukan karantina, di rumah sendiri juga bisa. Pada pasal 2 huruf (a) ditegaskan, bahwa kekarantinaan kesehatan diselenggarakan dengan berasaskan perikemanusiaan. Oleh karena itu, tidak boleh siapapun melakukan kebijakan kekarantinaan secara semena-mena.
Pemaksaan terhadap seseorang, termasuk dalam konteks pemaksaan masuk ruang isolasi di RS, merupakan pelanggaran aturan hukum. Pemaksaan semacam ini masuk dalam kategori melanggar Hak Asasi Manusia (HAM).
HAM merupakan hak yang diberikan Tuhan kepada setiap pribadi manusia sejak lahir. Menurut pengertian di dalam UU RI No. 39 tahun 1999, bahwa HAM adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa (YME) dan merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh Negara, hukum, Pemerintah dan setiap orang, demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia. HAM juga diatur pada Pasal 28 Undang-Undang Dasar (UUD) tahun 1945, khususnya Pasal 28 huruf G ayat (1) dan (2).
Pemerintah harus mengambil tindakan tegas terhadap Oknum tim medis RS dimanapun di seluruh Indonesia yang melakukan pelanggaran hukum atau yang melanggar HAM terhadap warga masyarakat dalam melaksanakan tugas penanganan pandemi Covid-19. Saat ini sebagian masyarakat sedang menghadapi suatu kondisi yang kurang baik karena merosotnya perekonomian, khususnya mereka yang kehilangan pekerjaan dan/atau karena usahanya tutup. Oleh karena itu, jangan lagi masyarakat mengalami perlakuan yang tidak wajar di masa pandemi ini, khususnya di dalam penanganan pandemi Covid-19.
Kiranya Pemerintah dapat memberikan kelonggaran terhadap masyarakat yang belum memiliki rekam medis pasti terinfeksi virus Covid-19 untuk melakukan isolasi mandiri di rumah sendiri dan tidak harus diisolasi di RS. Faktanya, ada juga beberapa pasien yang sudah memiliki rekam medis terinfeksi virus Covid-19, namun mereka diperbolehkan melakukan isolasi mandiri di rumah sendiri dan akhirnya sembuh.
Semoga pandemi Covid-19 segera berakhir dan Indonesia kembali ke keadaan normal seperti sediakala. Oleh karenanya, mari kita segenap bangsa Indonesia mendukung Pemerintah untuk mengatasi persoalan pandemi Covid-19 agar cepat berakhir dan hilang dari bumi pertiwi yang kita cintai ini. (Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here