Ngaku Muslim Enggan Zakat? Hii…Ngeri, Ini Dia Ancamannya…!!!

9
Bidik 86, Indonesia
Zakat dalam Islam, merupakan salah satu kewajiban bagi seorang Muslim dan merupakan Rukun Islam yang ketiga. Dalam Al-Qur’an sendiri, telah banyak Allah swt menyebutkan dan memerintahkan untuk menunaikan kewajiban zakat.

خُذْ مِنْ أَمْوَٰلِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِم بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَوٰتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْ ۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Artinya: Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan berdo’alah untuk mereka. Sesungguhnya do’a kamu itu menjadi ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Alloh Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS. At-Taubah: 103)

Zakat merupakan kewajiban dan perkara yang pasti dalam Islam, sehingga hukum bagi mereka yang tidak membayar zakat adalah dosa. Sebagaimana firman Allah swt:

“Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allâh, maka beritahukanlah kepada mereka, bahwa mereka akan mendapat siksa yang pedih. Pada hari dipanaskan emas dan perak itu dalam Neraka Jahannam, lalu dahi, lambung dan punggung mereka dibakar dengannya, lalu dikatakan kepada mereka:

“Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang akibat dari apa yang kamu simpan itu”. (QS. At-Taubah: 34-35)

وَلَا يَحْسَبَنَّ ٱلَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَآ ءَاتَىٰهُمُ ٱللَّهُ مِن فَضْلِهِۦ هُوَ خَيْرًا لَّهُم ۖ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَّهُمْ ۖ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُوا۟ بِهِۦ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ ۗ وَلِلَّهِ مِيرَٰثُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۗ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Artinya: “Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan di lehernya, kelak pada hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan yang ada di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. Ali Imron: 180)

Dari Abu Hurairah Radliyallahu ‘anhu, dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: 

“Barangsiapa diberi harta oleh Allah, lalu dia tidak menunaikan zakatnya, pada hari kiamat hartanya dijadikan untuknya menjadi seekor ular jantan Aqra’, yang kulit kepalanya rontok, karena dikepalanya terkumpul banyak racun, yang berbusa dua sudut mulutnya. Ular itu dikalungkan di lehernya pada hari kiamat. Ular itu memegang dengan kedua sudut mulutnya, lalu ular itu berkata, “Saya adalah hartamu, saya adalah simpananmu”. Kemudian beliau Shallallahu ‘ wa sallam bersabda, “Sekali-kali, janganlah orang-orang yang bakhil menyangka…Al ayat”. (HR. Bukhari, No. 1403)

 

Pada hadits lain, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَلَا صَاحِبِ كَنْزٍ لَا يَفْعَلُ فِيهِ حَقَّهُ إِلَّا جَاءَ كَنْزُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ شُجَاعًا أَقْرَعَ يَتْبَعُهُ فَاتِحًا فَاهُ فَإِذَا أَتَاهُ فَرَّ مِنْهُ فَيُنَادِيهِ خُذْ كَنْزَكَ الَّذِي خَبَأْتَهُ فَأَنَا عَنْهُ غَنِيٌّ فَإِذَا رَأَى أَنْ لَا بُدَّ مِنْهُ سَلَكَ يَدَهُ فِي فِيهِ فَيَقْضَمُهَا قَضْمَ الْفَحْلِ

“Tidaklah pemilik harta simpanan yang tidak melakukan haknya padanya, kecuali harta simpanannya akan datang pada hari kiamat sebagai seekor ular jantan Aqra’ yang akan mengikutinya dengan membuka mulutnya. Jika ular itu mendatanginya, pemilik harta simpanan itu lari darinya. Lalu ular itu memanggilnya, “ambillah harta simpananmu yang telah engkau sembunyikan! Aku tidak membutuhkannya”. Maka ketika pemilik harta itu melihat, bahwa dia tidak dapat menghindar darinya, dia memasukkan tangannya ke dalam mulut ular tersebut. Maka ular itu memakannya sebagaimana binatang jantan memakan makanannya”. (HR. Muslim, No. 988)

Beliau kembali bersabda: “Tidaklah pemilik emas dan pemilik perak yang tidak menunaikan haknya (perak) darinya yaitu zakat, kecuali jika telah terjadi hari kiamat (perak) dijadikan lempengan-lempengan di neraka, kemudian dipanaskan di dalam Neraka Jahannam, lalu dibakarlah dahinya, lambungnya dan punggungnya. Tiap-tiap lempengan itu dingin, dikembalikan dipanaskan di dalam Jahannam, untuk menyiksanya. Itu dilakukan pada hari kiamat, yang satu hari ukurannya 50 ribu tahun, sehingga diputuskan hukuman diantara seluruh hamba. Kemudian dia akan melihat atau akan diperlihatkan jalannya, kemungkinan menuju Surga dan kemungkinan menuju Neraka”. (HR. Muslim, No. 9887, dari Abu Hurairah)

Harta dalam Islam di dunia hanyalah ujian bagi manusia. Untuk itulah, hendaknya tidak memuja harta, hingga melupakan kewajibannya sebagai seorang Muslim. Sungguh adzab yang pedih merupakan ancaman nyata bagi mereka yang tidak mau membayar zakat kepada penerima zakat.

وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّمَآ أَمْوَٰلُكُمْ وَأَوْلَٰدُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ ٱللَّهَ عِندَهُۥٓ أَجْرٌ عَظِيمٌ

Artinya: “Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanya sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar”. (QS. Al-Anfal: 28)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فِي كُلِّ سَائِمَةِ إِبِلٍ فِي أَرْبَعِينَ بِنْتُ لَبُونٍ وَلَا يُفَرَّقُ إِبِلٌ عَنْ حِسَابِهَا مَنْ أَعْطَاهَا مُؤْتَجِرًا قَالَ ابْنُ الْعَلَاءِ مُؤْتَجِرًا بِهَا فَلَهُ أَجْرُهَا وَمَنْ مَنَعَهَا فَإِنَّا آخِذُوهَا وَشَطْرَ مَالِهِ عَزْمَةً مِنْ عَزَمَاتِ رَبِّنَا عَزَّ وَجَلَّ لَيْسَ لِآلِ مُحَمَّدٍ مِنْهَا شَيْءٌ

“Pada onta yang digembalakan dari setiap 40 ekor, (zakatnya berupa) ibnatu labun. Tidak boleh onta dipisahkan dari hitungannya. Barangsiapa memberikannya (zakat) untuk mencari pahala, maka dia mendapatkan pahalanya. Dan barangsiapa menahannya, maka sesungguhnya kami akan mengambilnya dan separuh hartanya, sebagai kewajiban dari kewajiban-kewajiban Rabb kami. Tidak halal bagi keluarga Muhammad sesuatu darinya (zakat)”. (HR. Abu Dawud; Nasai; Ahmad. Dihasankan oleh Syaikh Al-Albani, dalam Shahih Al-Jami’us Shaghir, No. 4265)

Jika seseorang menyangka, bahwa harta yang melimpah akan dapat menyelamatkannya, sedangkan dia tidak tunduk dan ta’at kepada Penciptanya dalam perkara harta, maka ia benar-benar telah salah dan sesat. Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

وَلاَ تُخْزِنِي يَوْمَ يُبْعَثُونَ ، يَوْمَ لاَ يَنفَعُ مَالٌ وَلاَ بَنُونَ ، إِلاَّ مَنْ أَتَى اللهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

 

Artinya: “Nabi Ibrahim berdo’a, “Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, (yaitu) pada hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih”. (QS. Asy-Syu’ara: 87-89)

وَيْلُُ لِّكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍ ، الَّذِي جَمَعَ مَالاً وَعَدَّدَهُ ، يَحْسَبُ أَنَّ مَالَهُ أَخْلَدَهُ ، كَلاَّ لَيُنبَذَنَّ فيِ الْحُطَمَةِ

Artinya: “Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta lagi menghitung-hitung. Dia mengira, bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya. Sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthomah”. (QS. Al-Humazah: 1-4)

Sungguh harta yang disimpan dan dibanggakan tidak akan pernah bisa menolong di akhirat, bahkan akan menyebabkan si penyimpan harta tersebut menjadi celaka.

وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِشِمَالِهِ فَيَقُولُ يَالَيْتَنِي لَمْ أُوتَ كِتَابِيَهْ ، وَلَمْ أَدْرِ مَاحِسَابِيَهْ ، يَالَيْتَهَا كَانَتِ الْقَاضِيَةَ ، مَآأَغْنَى عَنِّي مَالِيَهْ ، هَلَكَ عَنِّي سُلْطَانِيَهْ ،

 

Artinya: “Adapun orang-orang yang diberikan kepadanya kitab (catatan amal)-nya dari sebelah kirinya, maka dia berkata, “Wahai, alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini) dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku. Wahai, kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu, hartaku sekali-kali tidak memberi manfa’at kepadaku. Telah hilang kekuasaan dariku”. (QS. Al-Haqqah: 25-29). (Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here