Polda Metro Jaya Luncurkan Ruang Pelayanan Anak Terpadu

9
Bidik 86, Depok
Direktorat Lalu Lintas Kepolisian Derah Polda (Ditlantas Polda) Metro Jaya, meluncurkan ‘Ruang Pelayanan Anak Terpadu’ di Kepolisian Resort Kota (Polresta) Depok. Ruang Pelayanan Anak Terpadu ini, merupakan ruangan untuk pemeriksaan anak sebagai tersangka, korban maupun saksi, dalam Kecelakaan Lalu Lintas (Laka Lantas).
Ruang Pelayanan Anak Terpadu ini merupakan inovasi program pelayanan penanganan anak yang berhadapan dengan hukum, pada perkara Laka Lantas secara terpadu antara Kepolisian Republik Indonesia (Polri), Balai Pemasyarakatan dan Asosiasi Psikologi Forensik Indonesia.
“Program ini diimplementasikan melalui Ruang Pelayanan Anak Terpadu yang berada diseluruh Unit Laka Lantas di Wilkum Polda Metro Jaya,” ujar Direktur Lalu Lintas (Dirlantas) Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Polisi (Kombes Pol) Sambodo Purnomo Yogo, dalam keterangannya, Jum’at (25/09/20).
Program ini diselenggarakan untuk menyelamatkan anak-anak, baik sebagai pelaku maupun korban dalam kasus Laka Lantas. Merujuk pada data Dit Lantas Polda Metro Jaya, angka Laka Lantas yang melibatkan anak di bawah umur, masih memprihatinkan.
“Di tahun 2018 itu ada 559 anak, tahun 2019 ada 921 anak dan semester pertama tahun 2020 mencapai 395 orang,” imbuh Kombes Pol Sambodo.
Kemudian, angka Laka Lantas yang melibatkan pelajar pada tahun 2018 mencapai 239 orang, di tahun 2019 sebanyak 368 orang dan di tahun 2020 mencapai 210 orang.
“Dalam penanganan Laka Lantas yang melibatkan anak, selama ini hanya melibatkan Balai Pemasyarakatan untuk meneliti kondisi sosialnya saja,” kata Kombes Pol Sambodo.
Dengan adanya program Ruang Pelayanan Anak Terpadu ini, nantinya pihak Kepolisian akan bekerjasama dengan psikolog anak yang tergabung dalam Apsifor, untuk melaksanakan wawancara atau pendampingan saat pemeriksaan serta penyajian data psikologi anak, untuk kepentingan diversi dan proses penyidikan Laka Lantas anak, baik sebagai pelaku, korban, maupun saksi.
Pelayanan psikologi anak, juga merupakan sarana untuk trauma healing, terutama bagi anak berstatus sebagai orang yang berkonflik dengan hukum atau tersangka, sebelum dilakukan pemeriksaan.
“Nantinya, data dari hasil penelitian psikolog anak dan Balai Pemasyarakatan ini, digunakan untuk menyusun program pencegahan dan penanganan Laka Lantas yang melibatkan anak,” lanjut Kombes Pol Sambodo.
Dalam kesempatan ini, Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Metro Jaya dan Dirlantas Polda Metro Jaya, mendapatkan penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) dan Gerakan Nasional Polisi Sahabat Anak Kak Seto Award 2020, sebagai pemrakarsa program Ruang Anak Terpadu pertama, dalam penanganan anak berhadapan dengan hukum Laka Lantas. (Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here