Refleksi HUT Kemerdekaan RI ke-75 Di Mata Kabaharkam Polri

13
Bidik 86, Jakarta
Pada tanggal 17 Agustus 2020, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) genap berusia 75 tahun. Hari Ulang Tahun (HUT) NKRI tahun ini terasa “istimewa”, karena bertepatan dengan kondisi pandemi Corona Virus Desease 2019 (Covid-19) dan menunjukkan usia yang sudah dewasa.
Kondisi tahun 2020 kurang menguntungkan bagi bangsa Indonesia dan dunia, karena pandemi Covid-19 telah mempengaruhi kesehatan, psikologi, sosial dan ekonomi masyarakat. Namun demikian, usia 75 tahun yang sering dirayakan dengan sebutan ulang tahun berlian, memberikan gambaran usia yang matang dan telah menjalani berbagai tantangan hidup dan telah teruji.
Hal ini disampaikan Kepala Badan Pemelihara Keamanan Kepolisian Republik Indonesia (Kabaharkam Polri), Komisaris Jenderal Polisi (Komjen Pol) Agus Andrianto, dalam keterangan tertulisnya kepada awak media, Sabtu (15/08/20).
Kemerdekaan Indonesia bukanlah suatu hadiah dari bangsa lain, namun merupakan hasil perjuangan rakyat Indonesia yang rela berkorban dengan satu tujuan, yaitu Kemerdekaan. Perjuangan rakyat Indonesia tidak boleh padam dan harus terus berlanjut dalam rangka mempertahankan serta mengisi kemerdekaan.
“Bung Karno pernah berpesan,  “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri”. Perjuangan seperti inilah yang sulit, karena kita tidak tahu siapa lawan dan siapa kawan. Perjuangan yang dilakukan bukanlah untuk melawan masyarakat atau penduduk Indonesia. Namun untuk merangkul dan mengajak setiap pihak bekerjasama membangun Negeri ini,” ujar Komjen Agus.
Lebih lanjut Komjen Agus mengatakan, bahwa saat ini masyarakat kita masih bisa dengan mudah termakan provokasi tanpa memeriksa lebih jauh fakta-fakta yang ada, terutama jika sudah menyangkut masalah SARA (Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan). Setiap berita atau isu yang ada diberbagai media, langsung ditangkap sebagai fakta tanpa menganalisanya terlebih dahulu dan kebanyakan dari kita masih memiliki mental penghujat.
“Apakah kita tidak pernah belajar dari sejarah, bahwa 350 tahun Belanda berhasil menjajah kita karena kita terpecah belah dengan politik devide et impera atau disebut juga dengan adu domba yang merupakan kombinasi strategi politik, militer dan ekonomi, yang bertujuan mendapatkan dan menjaga kekuasaan dengan cara memecah kelompok besar menjadi kelompok-kelompok kecil yang lebih mudah ditaklukan,” tegas Komjen Agus.
Dalam HUT RI ke-75 di masa pandemi Corona Virus Desease 2019 (Covid-19) kali ini, Indonesia mengambil tema ‘Indonesia Maju’ dan logo berbentuk perisai yang juga terinspirasi dari simbol perisai yang ada dalam lambang Garuda Pancasila. Di logo ini Indonesia digambarkan sebagai Negara yang mampu memperkokoh kedaulatan dan menjaga persatuan dan kesatuan Indonesia.
Sejarah telah membuktikan, bahwa persatuan dan kesatuan dari berbagai suku, kelompok dan golongan, yang menghantarkan Indonesia ke pintu gerbang kemerdekaan Indoneisa dan para pendiri bangsa telah mewariskan Pancasila sebagai perekat persatuan dan kesatuan yang wajib kita pelihara, kita kawal dan kita jaga bersama.
“Ancaman perpecahan bisa datang kapan dan dimana saja, apabila ada masyarakat mudah dipecah belah oleh perbedaan, konflik, perebutan kekuasaan, permasalahan sosial dan yang lainnya. Terutama dalam menghadapai masa pandemi Covid-19  saat ini, rakyat Indonesia wajib bersatu, karena persatuan dan kesatuan yang akan mejadikan kita Negara yang kuat, mandiri dan mampu berdiri di atas kaki kita sendiri,” tutup Komjen Agus. (Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here