Salam Yang Tak Tergantikan

37
MB86, Jakarta
Oleh:
Dr. KH. Surahman Hidayat, MA
Kapoksi II FPKS DPR RI
Setiap orang, individu dan kelompok, mempunyai ucapan salamnya masing-masing dan dengan bahasanya masing-masing. Selamat pagi, siang, malam, berjumpa, berpisah (Indonesia). Good morning, afternoon, evening, night (Inggris). Shobahal khoir, masaal khoir (budaya Arab), Assalamu’alaikum (Arab Islam). Ada pula ungkapan salam yang lain, menurut agama, budaya/bahasa tertentu. Seperti Om Santi Santi Om dan Salam Pancasila (usulan kepala BPIP).
Untuk komunikasi sosial dan fungsi kebahasaan, semua ucapan salam tersebut bisa saling menerjemahkan dan menggantikan, kecuali Assalamu’alaikum, apalagi jika dengan kelengkapannya, wa rohmatullohi wa barokatuh.
Demikian itu, karena Assalamu’alaikum mempunyai kedudukan, makna, serta konsekuensi moral dan hukum, bahkan mempunyai perspektif dan akibat duniawi dan ukhrowi.
Assalamu’alaikum menjangkau pemeluk Islam di mana dan kapan saja. Untuk mereka yang masih hidup dan yang sudah mendahului. Ketika ziarah atau melewati pekuburan kaum muslimin, dianjurkan membaca “Assalamu’alaikum ya ahlad diyar, antum sabiwun ainna insya Allah bikum lahikun”, lalu mendo’akan ahli qubur dan Al-Fatihah.
Dahsyatnya ucapan Assalamu’alaikum, bahkan mengundang kehadiran Malaikat yang bertugas menyebar kasih sayang (rahmat) Allah yang Maha Kuasa dan Tuhan seru sekalian alam.
Assalamu’alaikum, di dunia ini sebagai identitas Muslim dan Mukmin. Dengan konsekuensi bahwa pihak yang dituju/menerima, wajib dilindungi jiwa, harta dan keluarganya, atau orang yang membersamai (QS. 4 ayat 94). Itu karena si pengucap Assalamu’alaikum telah serta merta menegaskan janji jaminan, bahwa keselamatan jiwa, harta dan keluarga, adalah untuk Anda sekalian. Dengan jaminan ini, maka wajib secara agama dan akhlak atas penerimanya untuk menjawab setidaknya dengan yang setimpal “Wa’alaikumussalam”. Tapi sesama orang muslim dianjurkan membalas dengan yang lebih baik “wa ‘alaikumussalam wa rohmatullohi wa barokatuh”.
Dengan terjadinya komunikasi keadaban islami tersebut, maka Malaikat diperintahkan oleh Allah untuk turun membagi kasih dan keberkahan kepada para pihak.
Itu di dunia. Ternyata jumlah dan kualitas interaksi dengan Assalamu’alaikum merupakan tabungan ukhrowi. Menjadi kesantunan yang membawanya ke akhirat ke dalam lingkungan surgawi. Dimana sapaan penghormatan antar ahli surga itu dengan salam “Assalamu’alaikum” bukan dengan ungkapan yang lainnnya. Sebagaimana ditegaskan dalam Al-Quran, “ucapan tegur sapa mereka saat berjumpa ialah Assalamu’alaikum” (QS. 33: 44).
Demikian spesifik dan dahsyatnya “Assalamu’alaikum” dalam komunikasi interaksi sosial di dunia ini yang mampu menciptakan suasana kehidupan damai sentosa. Terus sustainable sampai ke akhirat memediasi komunikasi sesama ahli surga, insya Allah.
Posisi, makna, serta semangat salam yang demikian itu tidak menyediakan ruang yang menjadi alasan untuk ditukar dengan salam yang lain. Rasulullah SAW bersabda: “Tebarkanlah Assalamu’alaikum, berikan makan kepada fakir miskin, bangunlah malam untuk shalat dan munajat di saat-saat manusia tidur lelap, niscaya kamu akan memasuki surga Tuhanmu dengan selamat” (sahih Imam Bukhari dan Muslim).
Kepada orang-orang Bani Israil yang membuat gaduh serta rancu namun sebenarnya tidak cerdas, Al-Qur’an pun mengkritik dengan pertanyaan sarkastik “apakah kalian ingin menukar yang lebih baik dengan yang lebih rendah?”…Maka balasannya adalah kehinaan di dunia, lalu di akhirat diantarkan ke dalam siksa” (QS. 2: 61). (Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here