Sikap Sempurna dan Sujud Syukur Untuk Indonesia

18
Bidik 86, Bandung
Oleh: Ketum DPP Barisan Islam Moderat (BIMA), Ir. Dony Mulyana Kurnia (DMK)
Dalam hari-hari menyambut kemerdekaan Republik Indonesia (RI) yang ke-75, Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Pratikno, mensosialisasikan agar seluruh anak bangsa, bersikap sempurna selama tiga menit, pada tanggal 17 Agustus 2020, jam 10.17, untuk memperingati Hari Proklamasi RI.
Hal ini sangat baik, agar semua anak bangsa, meningkatkan rasa cinta terhadap Tanah Air Indonesia. Betapa kondisi carut marut yang terjadi di tengah situasi pandemi Corona yang mencekam, kita semua sebagai anak bangsa, mesti meredam emosi demi sebuah eksistensi agung yang namanya Indonesia.
Kita semua harus sadar akan ancaman disintegrasi bangsa yang selalu disulut, baik di internal ataupun eksternal.
Di internal, sampai kapanpun ekstra kiri dan ekstra kanan, selalu tidak sepakat dengan yang namanya Indonesia, mereka memakai politik Topeng Nasionalis, yang pada hakekatnya tidak peduli Indonesia hancur berantakan dan selalu bercita-cita membangun sistem yang dikehendakinya.
Demikian pula dari eksternal global, banyak kepentingan dan bertepuk sorai manakala Indonesia bubar.
Sangat mengerikan, kepentingan-kepentingan ini bersinergis untuk menghancurkan Indonesia. Oleh karena itu, seluruh anak bangsa harus waspada akan bahaya laten ekstra kiri, ekstra kanan dan kepentingan global untuk menghancurkan Indonesia tercinta.
Sebagai contoh konkrit, bayangkan Uni Soviet dan Yugoslavia, kedua Negara besar itu sekarang tinggal ceritera dan apa yang bisa diperbuat oleh Negara-negara kecil pecahan dari Negara besar seperti Uni Soviet dan Yugoslavia? Tidak ada, selain jadi objek dari Negara-negara besar. Dan sama sekali Negara-negara tersebut tidak lebih besar dari sebelumnya. Indonesia adalah Negara besar yang bisa berbuat besar. Dengan demikian, kedepan mempunyai harapan besar, insyaa Allah menjadi Negara maju, tentunya dengan syarat, minimal Negara kita ini tidak hancur berantakan seperti Uni Soviet dan Yugoslavia dan contoh nyata lainnya, yang perlu kita ingat sebagai anak bangsa. Coba lihat bagian dari Negara Indonesia sendiri yang melepaskan diri, Timor Timur atau yang sekarang disebut Timor Leste, apa yang bisa diperbuat oleh Timor Leste? Selain menjadi Negara kecil dan menjadi Negara miskin, sehingga sekarang sudah mulai mencuat kemauan dari masyarakatnya untuk bergabung kembali dengan Negara besar, yang namanya Indonesia.
Indonesia adalah Negara maritim yang sangat besar dan dahsyat wilayah lautnya, bayangkan jika Indonesia hancur berantakan, betapa lautan itu menjadi lubang-lubang masuk bagi kekuatan-kekuatan asing untuk mencengkeram seluruh wilayah Kepulauan-kepulauan yang ada di Indonesia. Alhamdulillah, dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) inilah, wilayah laut yang sangat dahsyat ini menjadi barier benteng pertahanan kita semua bangsa Indonesia dan otomatis kekayaan lautan yang sangat besar itu yang potensinya masih banyak yang terpendam dan belum tereksploitasi, menjadi milik kita semua sebagai anak bangsa dan di masa depan, anak cucu kita dengan kemajuan ipteknya, akan leluasa membuat karya-karya yang sangat luar biasa dengan besarnya potensi wilayah lautan yang dimiliki Indonesia.
Untuk itu, Penulis menghimbau dalam tulisan kecil ini, agar semua anak bangsa introspeksi, muhasabah dan mawas diri, jangan sampai terpancing oleh semua bentuk anasir politik yang menghendaki kehancuran bangsa ini, dengan pola dan cara adu domba, devide eit impera. Pola-polanya akan mudah terlihat dengan berbagai pancingan-pancingan kekerasan, agar terjadi konfrontasi yang akut diantara anak bangsa.
Atas dasar uraian Penulis tersebut di atas, marilah kita semua untuk meningkatkan kewaspadaan, berhati-hati dan sangat penting untuk selalu saling mengingatkan, akan Maha Pentingnya, *Persatuan Indonesia*, melalui pemahaman-pemahaman nasionalisme, dengan Kemoderatan yang mempunyai sikap-sikap arif dan bijaksana. Jika kita terpesona dengan kiri ataupun kanan, jangan sekali-kali mengambil jalan sesat menyesatkan ekstra kiri ataupun ekstra kanan, tapi ambilah jalan kalaupun tidak bisa persis di tengah, minimal kita bisa ambil jalan kanan tengah, ataupun kiri tengah. Demikian formula ideologis yang tepat, bagi kuat kokohnya Persatuan Indonesia, yang ditempatkan di sila ketiga dari Pancasila, dengan sinyalemen posisi yang sangat luar biasa tepatnya dibuat oleh The Founding Father, *persis menjadi sila paling tengah* di dalam Pancasila. Posisi di tengah ini, bisa menjadi tanda pengingat bagi kita semua sebagai anak bangsa, bahwa seyogyanya jika kita semua menghendaki Persatuan Indonesia yang kokoh, harus mampu meredam emosi, arif bijaksana, sabar dan membangkitkan rasa kasih sayang terhadap sesama anak bangsa, tentunya sikap-sikap positif ini bisa hidup, manakala kita semua sebagai anak bangsa terus menerus secara simultan memperdalam dan mengokohkan kesadaran, pemahaman nasionalisme dan kemoderatan.
Secara Sunatullah pun, diingatkan oleh Sang Maha Pencipta, Allah swt, Indonesia diciptakan dengan iklim tropis yang pertengahan, udaranya sangat baik, tidak panas dan tidak dingin, sehingga bisa diibaratkan, sangat tidak cocok jika manusia Indonesia, mempunyai pemahaman yang ekstrim, sebagaimana cuaca yang ekstrim dingin di daerah Kutub dan ekstrim panas di daerah padang pasir.
Selain himbauan sikap sempurna yang sangat baik, tentunya Penulis sebagai salah seorang Pimpinan Organisasi Islam, menghimbau agar seluruh umat Islam setelah melakukan sikap sempurna, sebaiknya diiringi dengan melakukan *Sujud Syukur*, sehingga harapannya dengan sujud syukur ini, Allah swt, tambah sayang kepada bangsa Indonesia, sehingga selalu Melindungi dan Merahmati Negara kita tercinta. Aamiin yaa Robbal ‘aalamiin (yRa).
Kita harus mengingat Kemerdekaan RI, sesuai kesadaran yang diabadikan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945:
 _”Atas berkat Rahmat Allah Yang Maha Kuasa”_.
Maka kita semua sebagai anak bangsa, wajib untuk *bersyukur*.
Dalam Al-Qur’an jelas sekali, Allah swt. Menegaskan: La ingsakartum La aziidannakum, wa la ingkafartum, inna ‘azdaabii la syadiid: _”Jika engkau bersyukur kepadaKu, niscaya akan Aku tambah ni’mat bagimu dan seandainya engkau kufur, maka niscaya azdabKu sangat pedih.”_
*AllaHu Akbar*
*Merdeka!*
Mari kita semua merapatkan barisan untuk Indonesia yang lebih maju dan sejahtera. Aamiin yRa.
Untuk memperingati Hari Proklamasi Kemerdekaan RI yang ke-75, dengan *Sikap Sempurna dan Sujud Syukur*
AllaHu Akbar, Merdeka! (Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here