Taktik Licik KKSB, Provokasi TNI-Polri

8
Bidik 86, Papua
Setelah gagal mendapatkan perhatian dari Sidang Umum Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tanggal 22-29 September 2020 lalu, Kelompok Kriminal Separatis Bersenjata (KKSB) di Papua, semakin beringas dan membabi buta menyerang Aparat Negara dan masyarakat sipil untuk menunjukkan keberadaannya yang semakin diabaikan masyarakat. Cara yang digunakan antara lain memprovokasi, meneror, mengorbankan masyarakat sipil kemudian memfitnah Aparat Tentara Nasional Indonesia-Kepolisian Republik Indonesia (TNI-Polri) yang bertugas menjaga keamanan dan kedamaian di Papua. Tujuannya adalah agar masyarakat lokal tertekan dan terpaksa mendukung mereka serta mendapatkan perhatian dunia.
Seperti diketahui, serangan KKSB Papua terhadap Aparat Negara dan masyarakat sipil beberapa bulan terakhir semakin mengganas. Dimulai dari penembakan terhadap dua tenaga kesehatan penanganan Corona Virus Desease 2019 (Covid-19) yakni Almanek Bagau (luka tembak) dan Heniko Somau (tewas di tempat) pada Jum’at (22/05/20) di Distrik Wandai, Kabupaten Intan Jaya,  penembakan petani bernama Yunus Sani (tewas) pada Jum’at (29/05/20) di Kampung Magataga, Distrik Wandai, Kab. Intan Jaya, penembakan warga bernama Laode Zainudin (luka tembak) pada Sabtu (15/08/20) di Kp. Bilogai, Distrik Sugapa, Kab. Intan Jaya, penembakan 2 warga sipil berprofesi tukang ojek bernama Laode Anas (kemudian meninggal dunia) dan Fatur Rahman (luka tembak) pada Senin (14/09/20) di Distrik Sugapa, Kab. Intan Jaya.
Pembunuhan warga sipil berprofesi tukang ojek bernama Badawi (tewas di tempat) dan penembakan Anggota TNI bernama Sersan Kepala (Serka) TNI Sahlan (tewas di tempat) pada Kamis (17/09/20) di Kp. Hitadipa, Distrik Sugapa, Kab. Intan Jaya, penyerangan Komando Rayon Militer (Koramil) Persiapan Hitadipa, Distrik Sugapa, Kab. Intan Jaya pada Sabtu (19/09/20) yang menewaskan Anggota TNI bernama Prajurit Satu (Pratu) TNI Dwi Akbar Utomo, penembakan Pendeta Yeremia Zanambani (kemudian meninggal dunia) pada Sabtu sore (19/09/20) Kp. Hitadipa, Distrik Sugapa, Kab. Intan Jaya, penembakan Polisi dan transportasi di sekitar Bandar Udara (Bandara) Bilorai, Distrik Sugapa, Kab. Intan Jaya pada Jum’at (18/09/20) dan Jum’at (25/09/20).
Penembakan ke arah Komando Distrik Militer (Kodim) Persiapan Kab. Intan Jaya pada Senin (05/10/20), penembakan Pos TNI di Pasar Baru Kenyam Kab. Nduga pada Selasa (06/10/20) yang menewaskan warga sipil bernama Yulius Wetipo, penyerangan terhadap rombongan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) di tanjakan Wabogopone, Kp. Mamba, Distrik Sugapa, Kab. Intan Jaya pada Jum’at (09/10/20) yang mengakibatkan Anggota Tim bernama Bambang Purwoko (Dosen UGM) dan Tim Pengamanan bernama Sersan Satu (Sertu)TNI Faisal Akbar, menderita luka tembak. Hingga pagi ini, Sabtu (10/10/20), KKSB melakukan serangan ke Pos TNI di Kp. Koteka, Distrik Kenyam, Kab. Nduga.
Kapen Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan) III, Kolonel TNI Czi IGN Suriastawa mengatakan, bahwa rangkaian kekerasan yang dilakukan KKSB ini terlihat semakin brutal dan gelap mata, tidak lagi memperhatikan siapa yang menjadi korban. Hal ini sangat disesalkan, karena ini berarti pelanggaran terhadap Hak Asasi Manusia (HAM) dan nilai-nilai kemanusiaan. Masyarakat sipil adalah pihak yang perlu dilindungi oleh semua pihak.
Sama seperti serangan-serangan sebelumnya, serangan KKSB terhadap Pos TNI pagi ini, Sabtu (10/10/20) di Kp. Koteka, Distrik Kenyam, Kab. Nduga, diduga untuk memprovokasi TNI agar membalas tembakan. Namun ternyata TNI bertindak profesional dengan tetap siaga dalam kedudukan pertahanannya dan terus mengintai arah datangnya tembakan. TNI akan membalas tembakan dengan terbidik bila Anggota KKSB yang melakukan tembakan telah teridentifikasi dengan pasti, untuk menghindari jatuhnya korban sipil di sekitar tempat kejadian. Hal ini juga dilakukan Personil TNI lainnya yang bertugas di setiap tempat di Papua.
Kepala Penerangan (Kapen) Kogabwilhan III menyampaikan, ada fenomena menarik dari taktik yang dimainkan KKSB akhir-akhir ini, dengan berusaha memprovokasi TNI-Polri di setiap tempat, waktu dan  kesempatan dan menyerang di tengah-tengah keramaian masyarakat sipil. KKSB berharap agar TNI-Polri membalas tembakan sehingga bila jatuh korban masyarakat sipil, akan menjadi bahan fitnah dan berita bohong KKSB bahwa para korban dibunuh oleh TNI.
“Sepertinya cara ini merupakan pesanan dari pendukung mereka di Luar Negeri yang selalu berbicara tentang pelanggaran HAM. Mereka butuh bahan untuk memojokkan Pemerintah Indonesia di forum internasional, namun ternyata mereka-lah pelakunya. Sudah beberapa kali kesempatan terbukti, bahwa KKSB dan pendukungnya selalu memutarbalikkan fakta kejadian. Mereka tidak berkomentar bila korban yang terbukti mereka bunuh adalah warga sipil, baik orang asli Papua maupun pendatang. Ini bukti, bahwa mereka-lah pelanggar HAM yang sebenarnya,” ujarnya.
Sangat besar kemungkinan, karena TNI bersikap profesional, tetap tenang, tidak membalas tembakan dari serangan-serangan mereka, KKB sendirilah yang akan menembakkan dan berusaha membunuh warga sipil sebagai bahan fitnah kepada TNI-Polri.
“Semoga warga masyarakat dan dunia internasional bisa faham akan situasi ini dan tidak mudah percaya dengan fitnah dan berita bohong yang selalu dimainkan KKSB beserta kelompok pendukungnya di Luar Negeri,” kata Kapen Kogabwilhan III. (Red)
Autentikasi:
Kapen Kogabwilhan III, Kolonel Czi IGN Suriastawa

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here