Waketu Komite I: DPD RI Tolak Pilkada 2020

35
Bidik 86, Jakarta
Dengan terbitnya Peraturan Pemerintah (PP) pengganti Undang-Undang (UU) Nomor 2 tahun 2020 tentang Pemilihan Gubernur (Pilgub), Bupati dan Walikota (Walkot) yang mengatur penundaan pemungutan suara Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2020 akibat wabah Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) serta rencana Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang akan melaksanakan Pilkada serentak tanggal 09 Desember 2020, maka Komite I Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) memberikan beberapa pokok-pokok pertimbangan.
Hal itu disampaikan Wakil Ketua (Waketu) Komite I DPD RI, H. Fachrul Razi, MIP, dalam pesan WhatsApp (WA), Selasa (02/06/20).
Pertama, kata Fachrul, World Health Organization (WHO) telah menyatakan Covid-19 sebagai pandemi global yang belum dapat diprediksi kapan pandemi tersebut akan berakhir;
Kedua, Pemerintah telah menetapkan Covid-19 sebagai bencana nasional melalui Keputusan Presiden (Kepres) No. 12 tahun 2020 dan sampai saat ini status tersebut masih berlaku;
Ketiga, pandemi Covid-19 telah berdampak meningkatnya jumlah korban dan kerugian harta benda, meluasnya cakupan wilayah yang terkena bencana, serta menimbulkan implikasi pada aspek sosial ekonomi yang luas di Indonesia;
Keempat, Pilkada serentak yang akan melibatkan 270 daerah serta kurang lebih jumlah pemilih sebanyak 105 juta orang pemilih, sangat rentan mengancam keselamatan jiwa pemilih dan penyelenggara Pemilu. Serta mempertimbangkan pula sampai dengan saat ini, jumlah korban yang terinfeksi Covid-19 masih terus bertambah, serta belum menunjukkan kecenderungan akan melandai apalagi berakhir;
Kelima, anggaran penyelenggaraan Pilkada tahun 2020 yang telah disepakati oleh KPU bersama 270 Kepala Daerah melalui naskah perjanjian hibah daerah sebesar Rp9,9 triliun, tentu akan sangat bermanfa’at bagi daerah apabila dapat digunakan untuk penanganan pandemi dan pemulihan dampak Covid-19 bagi masyarakat daerah. Pengajuan tambahan anggaran pelaksanaan Pilkada tahun 2020 oleh KPU sebesar Rp535,9 miliar di tengah kondisi pandemi ini akan sangat memberatkan keuangan Negara;
Keenam, penyelenggaraan Pilkada termasuk tahapannya di tengah pandemi Corona, dikhawatirkan akan merusak makna dan kualitas demokrasi sebagai sarana untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat, karena tidak memperhatikan aspek sosial-ekonomi dan kesehatan masyarakat.
Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan diatas, lanjut Senator asal Aceh ini, dalam kondisi pandemi Covid-19, Pemerintah, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI dan KPU RI, harus memperhatikan doktrin yang diterima secara universal, yaitu “salus populi suprema lex esto”, yakni agar keselamatan rakyat merupakan hukum tertinggi bagi suatu Negara. Berkenaan dengan hal tersebut, Komite I DPD RI menyatakan sikap tidak setuju terhadap rencana pelaksanaan Pilkada serentak pada tanggal 09 Desember 2020,” tutup Waketu Komite I DPD RI, H. Fachrul Razi, MIP. (Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here